Standar

Kakak Rajaaa.. Ini setaun yg lalu. Yg artinya sekarang kamu 1,5 tahun umurnya. Kalo dulu setiap sebulan sekali pasti diposting y kak, selalu di poto. Sekarang milestonenya aja udh abis. Tp bukan berarti kita lupa. Everyday spent with you is a wonderfull day. May God always blessing you. 😘😍😊 – with Nanda Prawita

View on Path

Standar

Alhamdulillah.. Abis buka lapak di bazar komplek, stok 30 botol abis ga sampe 2 jam. Yuk ah, yg mau minuman kemasan dingin rasa Taro, durian, greentea, tiramisu, banana dan Aneka varian coklat lainnya bisa lgsg di Pre Order ya..

#makasihibubapak2komplek
#bazarchedi
#thegreenhillresidence
#makasihpapap
#makasihrajaudahanteng – with Nanda Prawita and Reigy at The Greenhill Residence – Cluster Chedi

View on Path

Control

Standar

Pagii… Ceritanya saya lagi rajin nulis nih. Tetep tujuannya ngurangin beban di kepala dari ide-ide, pikiran-pikiran seliweran yang mungkin bagi sebagian orang enggak jelas. So, enaknya kita bahas apa ya kali ini… Barusan banget terlintas di kepala saya tentang kontrol diri. Hmm, jadi gini, pernah enggak ngerasa dalam situasi, anda bisa ngelakuinnya tapi you just can’t. You just can’t do it.

Bedanya sama anak-anak adalah, kalo anak-anak, mereka mau tapi enggak bisa. Karena mungkin enggak punya uang atau enggak boleh sama orang tuanya. Orang tua yg mereka enggak atau belum bisa kamu lawan. Kalo buat saya/kita mungkin, kondisinya adalah, kita punya kemampuan untuk melakukan itu, tapi kita tidak bisa. Tidak bisa karena apa? Karena jika kita melalukannya mungkin akan ada orang yang teraakiti, mungkin akan berakibat buruk buat diri kita, mungkin juga akan membuat kita kehilangan sesuatu nantinya. Itu yang membedakan dewasa dan anak-anak. That’s what called growing old. Anak-anak enggak akan ngerti tentang ini.

Karena anak-anak selalu di doktrin “apapun bisa kamu capai asal kamu berdoa dan berusaha”, “mimpilah setinggi bintang dilangit”, atau “kamu bisa jadi apapun yang kamu kamu, just believe”. And so on, so on… Makanya, ada patah hati, pernah sakit hati. Rasa Itu adalah, saat mimpi kecil kita berubah menjadi rasional seorang dewasa. Waktu kecil kita kurang diajarkan bahwa menyakiti orang lain bukan cuma sekedar memukul, mencuri, atau berkata kasar. Pelajaran yang mungkin orang dewasa juga masih belajar.

Padahal sebenernya di dalam agama juga diajarkan. Tidak semua yang kita inginkan boleh dilakukan. Tidak semua hal boleh dilakukan tanpa pertanyaan kenapa. Karena mungkin jawabannya akan lebih dalam dari sekedar alasan formal. Seperti, kenapa kita tidak boleh meninggalkan solat? Karena itu wajib hukumnya. Kenapa wajib? Kenapa dosa? Ah, karena mungkin jawabanya, sebenarnya tidak sesimple yg diberikan kepada anak umur 5 tahun. Tapi sekaranh saya tidak sedang membahas agama. Maaf, saya memang maaih sangat awam dalam agama.

The point is, bertambah dewasa itu, artinya tidak asal ngomong terutama dgn org lain. Tidak asal komentar walo anda merasa sudah dekat dengan orang tsb. Tidak melakukan hal-hal yang diluar norma. Iya, orang dewasa akan bertemu dengan norma-norma kehidupan. Yang kadang saya juga masih bertanya, kenapa harus begini? Kenapa?and, growing old never ask more, just trying understand and opening heart to let go. Itu yang disebut belajar dewasa. Put full of control on your self. Am I? Saya juga masih belajar.