Standar

Efek domino kehidupan

Efek domino kehidupan
Mungkin bagi sebagian orang yg berkutat di bidang psikologi atau yang suka menganalisa masalah-masalah dalam kehidupan udah pernah dengar tentang efek domino kehidupan ini. Tau efek domino kan? Efek/akibat beruntun dari suatu kejadian/kegiatan. Kenapa domino? Karena biasanya mudah kita lihat dengan kartu-kartu domino yang di pajang mengular. Lalu dengan satu jentikan jari di kartu paling ujung depan. Hap! Semua kartu akan runtuh sampai dengan kartu yang paling akhir. Makanya disebut efek domino.

Itu pun terjadi di kehidupan kita. Ada sebagian yang bilang ini sebagai sebab-akibat. Tapi saya lebih senang menyebutnya dengan efek domino, lebih pas. Oke, jadi gini, efek domino apa sih yang terjadi di dalam kehidupan kita? Oh, tentu banyak sekali. Karena beruntun, atau sebab-akibat yg bukan hanya satu dua kasus, makanya saya lebih pas menyebutnya dengan efek domino.

Kita mulai dari kasus bully ing deh di sekolah, yang terakhir ini ngehits. Pelaku dan korban bully, akan merasa dirinya sebagaia “pembully” atau “dibully” hanya jika mereka “merasa”. Misal, ada anak kelas sebelah/kakak kelas memaki2 temanya/adik kelasnya. Si teman/si adik kelas ternyata orangnya super cuek atau super berani. Tentu dia akan bersikap masa bodoh/berani melawan. Lalu apakah di akan merasa “dibully”? Tidak. Jika Dia orang yang cuek, di akan merasa semua baik-baik saja. Jika dia orang yang berani, dia akan merasa “sedang berperang”. Dimanakah efek domino nya? Ada, jika si korban yang dianggap “dibully” tersebut memiliki salah satu diantara sifat saja yang saya sebutkan tadi di atas. Maka tidak akan ada kehebohan kasus di tv, masuk headline berita dimana-mana. Karena si pelaku yang dianggap “pembully” tadi pun tidak akan merasa jd pembully ketika mendapatkan sikap balasan seperti itu dari orang yg dianggapnya dibully tadi. Karena contoh hal ini pernah saya lihat langsung. Salah satu teman perempuan saya di SMA dulu di datangin beberapa kakak kelas di depan kelasnya. Dipanggil dengan muka super jutek ke depan kelas. Dibentak-bentak. Semua mata tertuju padanya saat itu, termasuk saya. Tapi apa yg saya lihat? Saya melihat teman saya balik membentak dengan tatapan “bodo amat” ke para kakak kelas itu. Dan dia betul-betul sendirian. Para Kakak kelas itu pun tidak lama pergi meninggalkannya. Saya pikir dia akan mengis setelahnya. Yah, you know, mungkin saja kan teman saya itu cuma sok kuat di depan. Tapi ketika saya datangi kelasnya, saya tanya, “tadi kamu kenapa? Ada apa si?” jawabnya simple, “Oh, enggak apa-apa kok. Biasa aja.” See?

Oke, disini ada dua kemungkinan kan, dia jujur atau bohong. Jujur kalau dia benar-benar baik-baik saja atau dia bohong, bahwa mungkin dia akan menangis nanti di rumahnya. Tapi satu tindakan saja, bisa membuahkan efek yang beda. Karena setelah itu, saya tidak pernah melihatnya dibentak-bentak lagi. Lalu karena kita teman yang cukup dekat. Saya pun pernah main ke rumahnya. Diluar dugaan, rumahnya sederhana, kakaknya laki-laki. Ayah ibunya tidak selalu terlihat di rumah. Sesekali terlihat ibunya di dapur. Sesekali juga entah menghilang kemana ibunya. Gaya bicara mereka (teman saya dan ibunya) terdengar super santai (alias agak kasar sih di telinga saya, hehe). Kadang teriak-teriak, kadang bercanda. Dia mengurus semua keperluannya sendiri. Kadang membantu beberapa pekerjaan ibunya. Oke, sudah sampai situ saja ya contoh kasus pertama. Panjang lebar cerita saya, apa sih kesimpulannya?

Pertama, apa yang anda lakukan/sikap apa yg anda pilih sangat mempengaruhi sikap orang lain juga. Dan itu directly, secara langsung akan terlihat efeknya. Kedua, sikap/tindakan seseorang yang anda pilih, pasti ada hubungannya denga latar belakang anda, bagaimana keluarga anda hidup, bagaimana orang tua anda bersikap pada anda, bagaimana kakak/adik anda bicara pada anda. Ketiga, maka, jika anda merasa salah dalam bersikap, atau ada orang lain yang menurut anda salah, anda tidak langsung menyalahkan diri anda/orang tersebut. Tapi tanyakan dulu pada diri anda, mengapa anda melakukannya? Pengaruh siapa yang membuat anda melakukannya? Jika sudah dapat jawabannya, maka anda akan baru dapat memperbaiki diri. Cara ini lebih ampuh ketimbang anda hanya bersikap berpura-pura merasa salah hanya agar anda terlihat baik/agar masalah cepat selesai. Ingat! Sikap anda akan selalu mempengaruhi sikap orang lain juga.

Kasus pertama tadi sebetulnya masih bisa dipanjangkan lagi jika mau. Tapi, nanti kalian bosan membacanya, mari kita ganti kasus berikutnya. Oh iya, ada yang tahu dari mana teman saya itu bisa memiliki keberanian membentak balik si kakak kelas tadi? Tahu enggak jawabannya? Kalau tahu, berarti sampe sini anda masih bersama saya. Anda masih paham dengan apa yg saya sampaikan. Yap, teman saya mendapatkan keberanian tadi tentu dari latar belakang keluarganya. Cara interaksi dengan ibunya, kakaknya, ayahnya yang super santai (alias menurut saya agak kasar tadi), membuat dia mungkin beranggapan “ya elah, begini doang si cemen buat gw.” dengan terbiasa mengurus segala sesuatu sendiri, membuat dia dapat meghandle masalahnya sendiri. Dia tidak butuh bantuan orang lain. Atau mungkin, dia pernah menerima penghinaan lebih sebelumnya dengan perekonimiannya yang sederhana itu. Who knows?

Dua efek sebab-akibat dari cerita di atas. Satu, bagaimana sebab latar keluarga mengakibatkan mental & sikap anak. Dua, bagaimana sebab sikap balasan teman saya terhadap pada kakak kelas yag mengakibatkan dia tidak pernah dibully lagi setelah itu. Bayangkan, jika teman saya adalah anak yang dimanja atau serba terpenuhi kebutuhannya. Sikap yg ditampilkannya pun pasti berbeda. Dan efek yg di dapatkannya pun pasti berbeda. Itu lah, contoh efek domino pertama.

Kasus kedua. Tentang sebuah keluarga. Ada anak yang terceritakan berada dalam keluarga yang perekonomiannya menengah. Alih-alih memotivasi agar anaknya ranking di sekolah, ayahnya selalu bilang, “kalau kamu ranking 1 nanti ayah beliin sepeda.”, ” kalau kamu ranking 1 nanti ayah beliin hp”. Sesaat keinginan anak itu terpenuhi. Dia punya hp, dia punya sepeda. Lalu, masuk lah anak tersebut pada fase pubertas. Nilainya turun, katanya sering main, sering pacaran. Lalu ayahnya berkta lagi, “kamu sekarang udah enggak ranking, hp nya ayah ambil ya!”, ” kamu sekarang udah sering main, tidak nurut lagi sama ayah, uang jajannya dikurangin ya!” waktu terus berjalan, si anak pun merasa menjalani kehidupannya dengan normal, kadang ranking, kadang tidak, kadang putus, kadang punya pacar. Sampai lah si anak di dunia kerja. Dia bekerja dan tiba pada saat sudah waktunya menikah. Ada yang aneh dengan anaknya, tidak pernah punya hubungan yang langgeng dengan pasangannya. Ayahny pun mulai uring2an, menyuruh anaknya segera cari pacar. Yang dulu pernah dilarangnya sepuluh tahun silam. Si anak juga tidak kalah bingung, dia merasa tidak oernah ada laki-laki yang pas mengerti dirinya. Keika ada, laki-laki itu tidak benar-benar mencintainya. Hanya itu analisa yang dia punya atas kejombloannya. Beberapa laki-laki ada yang bilang dia pemarah, ada yg bilang dia terlalu menuntut, terlalu protektif. Kalian tahu, kenapa anak tersebut sulit mendapatkan pasangan? Karena si anak tersebut tidak pernah merasa benar-benar memiliki sesuatu. Pernah dia punya sepeda, lalu tiba-tiba diambil lagi. Pernah dia punya hp, lalu tiba-tiba dia harus berpikir keras kepada teman-temannya alasan kenapa sekarang dia tidak pegang hp lagi. Maka ketika dia punya pacar, itu pun dianggapnya seperti benda. Bisa dia atur, bisa dia bentuk sesuai kemauannya. Toh, ayahnya juga suka mengatur, memaksa. Dia menjadi pribadi yang demanding, penuntut, karena dia kerap dituntut. Jadi memiliki hi expectation terhadap orang lain. Sedang seorang pacar, itu manusia bukan benda. Apalagi tidak memiliki hubungan darah dengannya. Ia jarang merasa memiliki sesuatu yang dia sangat inginkan. Makanya, ketika dia bisa punya pacar, bisa punya seorang laki-laki yang ia cintai, senangnya bukan main. Tapi, rasa takut kehilangannya pun bukan main. Karena dia terbiasa mudah kehilangan sesuatu yang dia inginkan.
Apakah maksud si ayah salah? Tentu tidak. Apakah cara si ayah salah? Tentu iya. Paham? Bagaimana cara orang tua menyuruh anaknya pintar akan sangat berpengaruh pada bagaimana cara anaknya memiliki pasangan. Padahal kalau dilihat sekilas, jauy ya hubungannya. Yang satu tentang pebdidikan, yang satu lagi tentang mencari pasangan. Tapi, that’s really happened.

Jadi. Kalau ada yg masih jomblo, atau habis patah hati. Coba cek lagi, salah anda, salah si dia, atau salah ayah/ibu anda. Mungkin saja salah tiga-tiganya karena Ingat! Kita sedang membahas efek domino, yaitu bukan efek 1-2 sebab akibat saja. Lalu apakah efek dimino ini bisa distop? Tidak. Efek domino pasti terjadi. Karena kita manusia, mahluk sosial, pasti berinteraksi. Yang bisa kita lakukan adalah, dengan menyadarinya dan menbuatnya menjadi efek yang lebih positif. Dan tentang kisah si anak tadi, itu saya tidak mengada-ada. Saya tidak akan berani menulis jika kejadiannya tidak saya lihat/alami sendiri.

Saya kurang begitu paham tentant IQ, EQ, AQ atau apalagi itu. Berbagai macam jenis kepintaran yg sudah diteliti dan dibagi-bagi. Tapi sejatinya, kepintaran yg anda punya harus menunun anda untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah hidup anda sendiri sampai tutas. Menjadi sebuah kesimpulan yang bisa menjadi bahan perbaikan diri sendiri dan orang lain. Itu guna ilmu yang sesungguhnya menurut saya.

#yangsukabolehlike
#yangtidaksukasilahkanhapus

Regards,
-R. Widyani

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s