Rahasia Suamiku

Standar

Rahasia Suamiku

 

Di kasur ini kita berdua saling melepas lelah. Tapi kami saling berpunggungan. Mungkin aku iri dengan lampu duduk yang lebih sering dipandanginya sebelum tidur ketimbang diriku. Suamiku tidak sedang marah, tidak pun kita sedang beradu pendapat. Sudah hampir dua bulan kurasa ada perubahan dari sikapnya. Belum adanya kehadiran anak tidak pernah menjadi masalah selama dua tahun pernikahan kita. Kalaupun menjadi masalah, kenapa harus baru dua bulan terakhir ini. Pernah aku bertanya

“Pah, kenapa sih sekarang kok kayaknya lebih diam, lebih dingin, banyak kerjaan kah?”

“Enggak apa-apa kok, cuma ada bos baru, orangnya aneh aja.”

Pernah sekali aku melihat ia memakai jam tangan baru. Kuberanikan diri lagi untuk memancing pertanyaan.

“Beli jam baru, Pah?”

”Oh ini, enggak, ada klien saja yang ngasih.” Hanya jawaban seperti itu yang kuterima. Sebetulnya perubahan suamiku tidak terlalu signifikan. Kita bangun pagi seperti biasa, berkomunikasi standar setiap hari seperti membahas menu masakan, membahas berita di televisi, dan dia masih mendengarkan ceritaku sehari-hari. Tapi dia lebih diam sekarang dan keadaan ranjang kita sekarang makin dingin. Dia selalu bilang capek di kantor bahkan kerap kali pulang larut malam, katanya lembur. Dan benar saja sudah beberapa kali ia memberiku uang lebih, hasil lembur kemarin katanya. Seharusnya aku senang, bukan malah curiga.

Sepertinya kok terlalu dangkal ya jika aku menganggap suamiku ini selingkuh. Selingkuh dengan siapa juga, tidak ada tersangka yang perlu kucurigai. Namun, jika terus-terusan keadaan ranjang kami dingin seperti ini, bagaimana kita bisa punya anak. Sedangkan aku sendiri kehabisan cara dan keberanian untuk bertanya kenapa suamiku berubah. Dan dari selama pernikahan kami, baru kali ini aku merasakan kekhawatiran berlebih terhadap sikap suamiku. Tapi aku memilih untuk diam dan memendam semua pertanyaan itu di dalam hati saja.

 

“Kenalkan ini bosku di kantor, Mah” ucap suamiku saat secara tidak sengaja bertemu  sepasang pasangan di salah satu pusat perbelanjaan. Kulihat wanita seumuranku yang cantik dan modis bersama seorang laki-laki yang berumur sekitar lima tahun lebih muda darinya. Aku menjabat tangan perempaun itu.

“Donna” Ia menyambut uluran tanganku. Senyumnya manis sekali. Lalu tidak lama kita berempat pun berpisah. Aku sendiri tidak sempat diperkenalkan dengan laki-laki yang berdiri di sebelah bos suamiku tadi. Tapi dari bahasa tubuhnya, dia seperti kekasih atau suaminya.

“Itu tadi suaminya ya, Pah?” tanyaku pada suamiku.

“Bukan, itu tunangannya. Bulan depan mereka menikah” jawab suamiku singkat.

 

Kehidupanku dan suami begini-begini saja. Sudah enam bulan suamiku masih menjadi sosok pendiam dan dingin. Ingin aku menyelidikinya, tapi tidak ada bukti satu pun untukku selidiki. Malah kenyataanya, finansial kita sepertinya membaik. Walau tidak banyak kata yang terucap diantara kita, tapi suamiku sekarang sering mengajakku belanja. Kadang pakaian, sepatu atau keperluan rumah tangga.

“Kamu naik jabatan ya, Pah?”

“Engga kok. Ini dari lemburanku kemarin aja.”Sebenarnya antara puas dan tidak puas aku menerima jawaban suamiku. Tapi ya mau apa lagi. Harusnya aku bersyukur, bukan malah curiga.

 

Malam itu sekitar pukul dua belas malam. Aku sudah setengah terlelap di sofa menunggu suamiku pulang kantor. Tiga bulan terakhir ia memang sudah sering pulang dari kantor di atas jam sepuluh. Kudengar pintu rumah di ketok kencang, lebih seperti digedor. Aku bangun sempoyongan dari tidurku lalu membuka pintu. Aku kaget bukan main, kulihat wajah suamiku bengap. Sekitar matanya biru, pinggir bibirnya ada noda darah, berdiri tegap pun tampaknya ia kesusahan. Kutanya naik apa dia pulang. Dia hanya menjawab singkat.

“Taxi. Mobil aku tinggal di kantor.”

“Kamu kenapa sih, Pah? Di pukulin siapa? Kita ke rumah sakit aja yuk sekarang!” ucapku panik sambil memapah suamiku masuk ke dalam rumah.

“Tadi pulang kantor di parkiran ada rampok. Papah lawan aja, untung enggak ada yang hilang. Tapi ya gini jadinya, babak belur, Mah” Jawab suamiku. Aneh, padahal setahuku menyerempet mobil orang sedikit saja, mati-matian minta maaf dan langsung mengganti rugi sejumlah yang diminta.

Alhasil malam itu aku membersihkan luka di wajah dan tubuh suamiku. Kukompres, kuberi antiseptik, aku perban lukanya. Dua hari ia tidak masuk kantor. Tidak ada cerita berlanjut tentang kejadian perampokan itu. Tapi selama dua hari itu aku merasa suamiku perlahan kembali seperti dulu. Saat menuju waktu tidur ia sesekali menatapku. Masih tetap tidak banyak yang terucap, tapi seperti ada yang ingin ia ceritakan. Mungkin ia masih ragu menceritakannya padaku. Aku tetap sabar menunggu.

 

“Minggu depan aku kayaknya bakal pindah kerja deh, Mah.” Dua minggu setelah kejadian malam itu suami tetiba berucap spontan sesaat sebelum ia berangkat kantor.

“Hah?! Papah mau resign dari kantor? Kenapa?” Suamiku ini memang paling pinter membuat istrinya shock sepertinya.

“Enggak apa-apa. Temen papah kemarin nawarin posisi dan gaji yang lebih bagus aja.” Setelah itu ia langsung ngeloyor pergi ke kantor. Apapun itu aku selalu ikut senang atas apa yang suamiku terima dari pekerjaanya. Dan sikapnya sekarang sudah

 

Ini sudah sekitar dua minggu suamiku bekerja di kantor baru. Malam ini sebelum tidur kita kembali mengobrol seperti dahulu. Ia cerita di kantor barunya ia mendapatkan posisi lebih tinggi tapi ternyata benefit yang di dapatkan tidak berbeda jauh dari kantor sebelumnya, malah dalam beberapa tunjangan lebih rendah.

“Ya enggak apa-apa lah, Pah. Yang penting papah kerjanya seneng, enggak banyak beban. Lagian mamah seneng kok, papah jadi jarang lembur lagi sekarang. Iya kan?” Ucapku tulus setelah dua minggu ini suamiku selalu pulang di bawah jam sembilan malam dan kita kembali melakukan rutinitas makan malam bersama.

“Mmmh, Mah… Mobil kita jual saja ya? Pertama makin macet, terus papah beli motor saja supaya lebih cepat kalau ke kantor”

“Hah?! Enggak salah, Pah?”

“Lagi pula, dengan pendapatan kita yang cenderung turun, papah enggak yakin dengan biaya perawatannya”

“Papah yakin? Naik motor enggak tambah capek kerjanya?”

“Enggak lah, malah papah bisa sampai rumah makin cepat dong, Mah…”

“Ya sudah, baiknya papah saja gimana. Mamah setuju-setuju saja”

Sejujurnya aku masih aneh dengan keputusan suamiku ini. Padahal dulu dia yang ngotot pengen beli mobil walau pas-pasan. Lagipula, setahuku benefit yang di terima di kantor baru pun tidak jauh sekali berkurang.

Lalu mobil pun tidak lama terjual. Harganya tidak tinggi, dan entah kenapa suamiku tampak terburu-buru menjualnya. Setelah mobil dijual, suamiku langsung beli motor untuk transprotasinya ke kantor. Tapi tidak seperti biasanya, sepeserpun dari hasil penjualan mobil tidak diberikan atau bahkan di beritahukan kepadaku. Ah, mungkin di simpan di tabungannya sendiri jika nanti ada keperluan tak terduga. Senin siang ini aku memutuskan ke supermarket, membeli bahan-bahan untuk masak seminggu ke depan. Jika cuaca tidak panas aku akan naik angkutan umum, tapi jika cuaca panas aku lebih memilih naik taxi, karena jarak rumah kami memang agak jauh ke supermarket.

Ditengah lorong kosmetik, tidak sengaja bertemu dengan Riska dan satu orang temannya. Riska adalah salah satu teman suamiku di kantornya yang lama. Aku kenal dia karena sering ketemu di acara-acara kantor suamiku dulu.

“Haiiii… Ririn ya? Istrinya Firman kan?” ucapnya.

“Iyaa… Riska kan? Temen kantornya Firman dulu?” balasku.

“Lagi ngapain nih? Sendirian?”

“Iya sendirian nih. Ini… biasa, belanja bahan buat dimasak seminggu. Kamu sendiri lagi enggak kerja?”

“Lagi jam makan siang ini. Biasa, bedak habis, jadi mampir deh ke sini”

“Ooh… iya ya, deket juga ya dari kantor. Saya baru ngeh, hehehehe…”

“Gimana Firman? Sudah lebih tenang sekarang?”

“Tenang apanya ya??” aku bingung dengan pertanyaan Riska.

“Eh…” Riska seketika tampak kebingungan, merasa salah ucap sepertinya. Sedangkan temannya yang tidak kukenal cenderung diam, walau kulihat dari bahasa tubuhnya ikut salah tingkah.

“Ada apa ya memangnya, Ris?” tanyaku kembali pada Riska.

“Oh, enggak kok. Maksud saya, di kantornya yang baru lebih enak kan? Lebih tenang gitu kerjanya?”

“Ooooh, iyaa… heheheh.. sekarang Firman alhamdulillah sudah jarang lembur lagi”

“Ya sudah, selamat belanja yaa…” Riska menyudahi obrolan sekilas kita.

“Iya… sama-sama kamu juga yaa…” kita pun lalu berpisah. Tapi dapat kudengar jelas mereka masih lanjut berbicara sesaat setelah memalingkan tubuhnya dariku.

“Iya lah, sekarang jarang lembur. Wong sudah di ‘KO’ sama suaminya Bu Donna. Makanya sampai pindah kantor dan jual mobil kan buat balikin uangnya Bu Donna”

“Tapi kayaknya istrinya enggak tahu deh kalau suaminya sempet jadi simpanan bos”

“Memang enggak tahu atau pura-pura enggak tahu mungkin di depan kita, hahahah…”

 

***TAMAT***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s