Pulang Ke Kotamu

Standar

Pulang Ke Kotamu

Tak henti-hentinya kupandangi alun-alun kota ini. Area yang berbentuk lingkaran dengan jalan melingkar searah di sisi luarnya dan hamparan rumput berpohon beringin di tengahnya. Teringat sekitar empat atau lima tahun lalu, banyak yang telah terjadi di sini. Terutama di kota ini. Saat itu aku bersekolah di kota ini. Seperti namanya kota pelajar, aku pun menuntut ilmu di salah satu kampus negeri tersohor di kota ini. “Ah, Jogjakarta. Semua orang yang pernah tinggal di kota ini pasti mengakui keindahannya” bisikku dalam hati. Tapi bukan hanya sekedar keindahan tentang adat istiadat atau ke khas-an makananya, tapi banyak pengalaman indah telah aku alami bersama kota ini.

Aku datang kembali ke sini dalam rangka liburan kantor bersama teman-teman dan pacarku. Total depalan orang. Tiga orang lain wanita teman sekantorku, yang notabene lahir dan besar di Jakarta, membuatku resmi menjadi tour guide mereka. Sedangkan empat orang lainnya adalah pasangan mereka, termasuk pacarku sendiri. Kita duduk mengampar di trotoar beralaskan tikar seadanya. Menyeruput hangatnya wedang ronde dan beberapa ada yang pesan nasi kucing. Dulu jaman aku kuliah, nasi kucing di kota ini masih ada yang harganya tujuh ratus perak perbungkus, berlaukan sambel teri dan biasanya akan di lahap bersamaan dengan gorengan yang dijual terpisah. Minum segelas es teh manis, sehingga tiga ribu perak bisa mengenyangkan perut anak kuliahan kala itu. Tapi sekarang, nampaknya harganya sudah naik berkali-kali lipat, apalagi dibeli di area komersil seperti ini.

“Yank, kok bengong gitu sih. Kesambet setan beringin lhoo…” Lamunanku terpotong oleh ucapan Aldi, pacarku.

“Hehehe… enggak, inget jaman kuliah dulu aja….”

“Inget jaman kuliah atau inget mantan niih..?” Goda Aldi

“Hahahaha… mantan aku udah pada nikah semua kali, yank”

Pacarku ini memang paling pintar menebak isi hati wanita. Diantara semua memoriku tentang kota ini, aku memang sedang teringat dengan Rudi, mantan pacarku. Sudah lama kami putus, bahkan sekarang dia juga sudah menikah dan punya anak. Aku bertemu secara tidak sengaja dengannya setelah setahun putus dan kulihat juga istrinya sedang hamil kala itu. Berarti dalam hitungan bulan setelah putus dariku, ia langsung menikahi wanita lain. Saat pertemuan tidak sengaja itu, aku kaget bukan main. Di saat aku kala itu masih berharap bisa kembali bersamanya, namun ia malah sudah akan punya anak dengan wanita lain. Tapi itu sudah lewat lama, sudah beberapa tahun lalu.

Setelah putus dengan Rudi pun aku sempat pacaran dengan orang lain baru setelahnya aku pacaran dengan Aldi. Hubunganku dengan Aldi ini serius. Beberapa bulan lagi kami akan tunangan. Aku yakin dengan Aldi karena dia sangat mengerti tentang diriku dan aku nyaman sekali berada di sampingnya. Berbeda dengan Rudi, saat itu hubungan kita bak permainan roller coaster. Sesaat bisa sangat indah dan romantis, tapi sesaat kemudian bisa terjadi pertengakaran yang sangat drama diantara kita. Maklum, saat itu mungkin pikiran kita masih terlalu muda, penuh emosi sesaat. Selama empat tahunku di Jogja, aku memang pernah dekat dengan beberapa laki-laki lain, bukan hanya Rudi. Tapi yang terakhir dan paling berkesan adalah denganya.

Setelah dari alun-alun, kita lanjut jalan-jalan di malioboro. Beberapa temanku ada yang belanja batik dan ada juga yang beli aksesoris. Aku sendiri lebih melilih melihat-lihat keadaan sekitar saja. Jogjakarta juga selalu indah karena karakter orang-orangnya. Ramah-ramah, sederhana, baik-baik. Dulu jaman awal kuliah di Jogja, aku malah terkaget-kaget ketika merasa sangat nyaman dan aman jalan di trotoar di pinggir jalan besar tanpa merasa takut kriminalitas atau pelecehan. Coba kalau di Jakarta jalan di trotoar, pasti sudah harus erat-erat memegang tas atau mendengar siulan nakal tukang ojek atau preman-preman jalanan. Parkir motor dimana-mana harganya standar, lima ratus perak. Jika dikasih uang seribu, pasti si abang parkir akan memberi kembaliannya. Semuanya tampak jujur dan sopan.

Bukan hanya sekedar menjalin kasih. Tapi di Jogjakarta lah pertama kali aku belajar mandiri. Pertama kali jauh dari orang tua dalama jangka waktu yang lama. Ngekost sendirian, mencari teman baru sendirian, dan beradaptasi dengan kota yang baru sendirian. Aku memang tidak punya kelompok teman atau geng, tapi aku berteman baik dengan hampir semua teman kampus dan kostku. Dari yang asli Jogja sampai yang dari pulau-pulau lain juga ada. Sesama anak rantau. Tapi aku punya satu sahabat saat di Jogja, sampai sekarang pun kita masih sering bertemu, karena kebetulan dia kerja di Jakarta juga sekarang. Tahun lalu aku datang ke pernikahannya di Semarang, karena dia orang asli Semarang.

Saat itu pertama kalinya aku hidup bebas, tidak ada yang mengatur dan juga menjaga. Jadi harus pintar-pintar bagi waktu, jaga diri dan kesehatan. Dari tidur seharian di kost-an kalau lagi malas ngapa-ngapain, pulang pagi kalau lagi pesta-pesta, sampai begadang suntuk jika sedang ada tugas, semua itu tidak akan ada yang menegor atau melarang. Semua yang pernah tinggal di Jogja, pasti akan sangat merindukan untuk selalu pulang lagi ke Jogja.

“Aku pengen deh tua di kota ini, yank” kataku pada Aldi di pinggir jalan Malioboro.

“Hah? Di Jogja?”

“Iyaaa… Nanti kalau kita tua, beli rumah di sini ya”

Anything for you, Hon…

Waktu sudah menunjukan hampir pukul duabelas malam. Tampaknya kita semua sudah lelah dan ingin langsung kembali hotel. Sempat terbesit ide untuk berjoget riang masuk ke salah satu club di Jogja, tapi tampaknya mata kita sudah lima watt semua. Energi habis terpakai untuk menawar barang dan menjinjing belanjaan. Dulu di Jogja, kegiatan dunia gemerlap juga sangat sederhana. Banyak yang naik motor, pakai sepatu teplek dan jins pun jadi. Coba kalau di Jakarta, harus ber-mini dress dan bersepatu hak tinggi serta ber-make up tebal.

Malam ini begitu indah. Dua hari sudah kami di Jogja, besok saatnya kita pulang ke Jakarta. Liburan kali ini sangat sempurna. Aku bisa mengenang semua kenangan indah di kota ini dengan kekasihku. Mengingat hal lama tapi dengan sesuatu yang baru. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi tentang masa lalu. Seseorang yang benar-benar menyayangimu akan selalu menerima masa lalumu, apapun itu, begitupun sebaliknya. Pada liburan kali ini, Aldi sepertinya sadar aku sedang bergerumul dengan semua kenangan tentang kota ini. Tapi dia tidak cemburu atau melarang, dia malah memberiku ruang untuk mengenang masa laluku. Karena aku tidak akan seperti aku yang sekarang ini, jika bukan karena masa lalu.

Keesokan paginya setelah sarapan dan packing, kita bersiap-siap beranjak dari hotel menuju bandara Adi Sucipto. Karena barang teman-temanku yang banyak dan malasnya badan ini di tarik dari kasur hotel, jadilah menjelang jam makan siang kita semua baru angkat kaki dari hotel menuju bandara. Mampir makan siang di daerah Babarsari, makan penyetan dan rawon rekomendasiku. Pesawat kita pukul 14.55, kita sampai bandara sekitar jam dua. Buru-buru check in dan masuk ke ruang tunggu. Setelah mengantri melewati scanner pengecekan, di sela ribetnya menggendong tas dan barang bawaan lainnya, aku mendengar namaku dipanggil.

“Diaaan…!!” aku sontak menengok ke arah suara tersebut. Mataku yang minus dan sedang tidak memakai kaca mata membuatku tidak tahu siapa yang memanggilku. Aldi pun yang mendengar suara itu ikut menoleh namun tidak tahu siapa yang memanggilku. Agar tidak menghalangi penumpang lain, aku berjalan kecil menjauh dari scanner pengecekan. Sedangkan ke teman-temanku yang lain sudah duluan menuju ruang tunggu. Aldi sendiri masih dalam antrian proses scanner pengecekan. Lalu terasa ada yang mengusap bahuku dari belakang. Kulihat ia menggendong seorang balita laki-laki mungil nan lucu.

“Hei, abis dari Jogja nih?” dia menyapa ramah.

“Eh iya… Kamu sendiri?”

“Aku kan memang tinggal di Jogja sekarang. Ini malah lagi mau ke Jakarta”

“Oh, ini anaknya ya? Lucuunyaa…” Ku cubit kecil pipi balita itu.

“Kamu sama siapa?” tanyanya. Kemudian Aldi mendekatiku setelah lolos dari proses scanner pengecekan.

“Sama teman-teman. Oh iya ini kenalin, Aldi, pacarku” kataku

“Oh, hai… saya Rudi.” ia menjulurkan tanganya. Mereka berdua bersalaman.

Tak lama panggilan naik ke pesawat terdengar. Kita berpisah dan semua saling bergegas menuju pintu gerbang yang sudah di buka. Kulihat di ekor mataku, seorang wanita berjilbab modis mendekati Rudi, berganti tugas menggendong balita tadi dan Rudi menggeret koper dan tas bayi.

Note : Cerpen kontributor terpilih untuk event menulis penerbit indie Bintang Pelangi dengan tempat impian, April 2015.

Please follow me on  retnowid.wordpress.com or twitter @retno_wid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s