Pameran Lukisan

Standar

PAMERAN LUKISAN

“Sreeet!! Praakkk!!!”

“Kreeek!” Suara rem tangan di tarik.

“Woi turun lo!!” Ku gedor kaca mobilnya. Dia turun, Anjrit ganteng!. Tapi matanya tajam siap memaki.

“Lo liat dong lampu gue ijo tadi! Maen maksa maju aja!” Aku memaki duluan.

“Lah, lampu dari arah gue juga tadi ijo. Ini dua fase kali lampu merahnya. Lo gantian kalo mau jalan. Ngerti enggak sih!” Teriaknya balik. Aku sudah tidak peduli lagi antrian di perempatan jalan itu. Aku marah!.

“Tapi dimana-mana yang lurus yang utama. Lo kan belok kanan ya jangan maksa dong. Pecah nih, gimana?!.”

“Pinggirin.” Katanya datar sambil melengos pergi masuk lagi ke mobilnya.

Setelah mobil kita berdua minggir dari perempatan tempat kejadian penyerempetan tadi, sekarang nada bicara kita sudah mulai turun. Berusaha mencari solusi. Tapi tidak ada yang mau mengalah. Aku minta ganti rugi.

“Lima ratus ribu cash!” Kalimatku tegas.

“Dih, lo mau meres gue? Ganti lampu sign doang gini mah kagak nyampe segitu kali.”

“Lo liat dong merk mobil gue apaan?!.” Kok kayaknya gue malah makin nyolot sih. Mukanya malah pasang tampang sinis.

“Heh, lo tau apaan emang tentang mobil? Mobil masih di service-in supir bokap aje belagu” Dia membalas egoku dengan lebih egoisnya. Aku diam. Mau nangis sebenarnya. Ini kenapa enggak ada yang belain gue gini sih. Beberapa detik kita sama-sama diam. Entah kenapa juga ini tempat minggir sepi dan tidak ada polisi atau orang yang melerai.

“Gini aja, sekarang lo ikut gue, kita ke bengkel.” Katanya.

“Hmm… KTP sama SIM lo sini!.” Ucapku, dan dengan segera aku bisa membaca namanya, Fadli Hermawan.

“KTP lo juga sini.” Ketusnya.  Aku berikan. Lalu dia berucap lirih “Fenny Rachmawati”

Sudah hampir dua jam aku di bengkel langgananya. Lampu sign dengan tipe dan merk mobilku sudah di pasang. Tinggal penyok sedikit di bumper perlu di ketok, di dempul lalu ditimpa cat. Mobilnya yang model Jeep hanya baret halus, bebeda dengan nasib mobil sedanku. Harusnya kita sudah damai. Buatku masalah sudah hampir selesai.

“Bos, besok lagi yah. Udah sore nih. Besok ku urang di kabaran lah jam sabaraha beres na1”. Kata tukang bengkel padanya. “Okeh.” Jawabnya singkat.

Lah, terus gue pulang gimana ini.

“Rumah lo dimana, Fen?” tiba-tiba tanyanya memecah kebingunganku.

“Panggil aja Rahma. Gue kost daerah slipi.”

“Gue anter lo pulang. Besok kalau udah beres, mobil lo gue anter” Entah kenapa gaya bicaranya selalu lebih tenang dariku. Membuat aku merasa bodoh. Aku masih kesal denganya.

Di mobilnya, di jalan pulang ke kostku.

“Nih” Aku mengembalikan SIM-nya setelah SIM-ku pun berada di tanganku.

“Lo kuliah atau…?” Aku memberaikan diri bertanya. Tentu aku harus tahu asal usul orang yang menabraku bukan.

“Iya, di  Harapan Bangsa. Lo?”

What??? Sama dong! Hahahaha!” Tawaku meledak seketika, entah kenapa juga aku harus tertawa di depan muka dinginya. Yang ada dia malah mengernyitkan dahi.

“Masa sih? Semester? Jurusan?”

“Lo dulu?”

“Gue Fadli, FSRD2 2002”

“Gue Rahma, FKG3 2005”

Itulah perkenalan aku dengannya yang aku ingat. Lucu, seru, tapi indah. Aku ingin tahu tentangnya.

Dia mengantarku sampai kostan. Kita tukeran kontak. Besoknya dia menjemputku dan mengantarku pulang. Begitu seterusnya, bahkan sampai mobilku selesai dari bengkel. Dia humoris, sikap dinginya ternyata cuma topeng. Dia orang yang hangat, melindungi dan asyik.           Sampai seminggu setelahnya teman-teman di kelasku ada yang bertanya “Lo pacaran sama si Fadli?.” Lalu setiap aku berjalan dengannya di kampus aku merasa banyak mata melihat kami. Kadang aku suka mendengar mereka berbisik “Beruntung banget ya si Rahma, Fadli gitu loh. Si ganteng itu akhirnya punya pacar juga” atau “Owh ya, kita lihat berapa lama si Rahma bisa jadian sama Fadli. Keren sih, tapi dingin gitu. Mana nyambung.”

Aku sama sekali tidak peduli dengan mereka. I’m totally madly in love with him and I guessed he did. Aku bisa ingat kencan pertama kami, kita nonton. Lalu kencan kedua was very surprising and unbelievable, dia mengajakku ikut touring club mobilnya offroad di daerah Bandung atas. Ketiga kita kulineran keliling Jakarta. Keempat, kelima sampai entah berapa kali aku tidak bisa menghitungnya lagi. Sampai aku melihatnya wisuda. Dan aku masih di semester dua mau naik ketiga. Dia ganteng dengan Toganya. Tapi ada yang lain yang aku rasakan. Hari-hari setelahnya aku merasa dia menghindar. Dia bilang sibuk mengurus S2 nya ke Korea. Dia suka seni rupa, suka melukis. Jadi ingat entah kencan keberapa saat lagi makan di restaurant sushi, karena lama menunggu pesanan datang, dia mengambil tisu dan mengeluarkan pulpen dari tasnya. Dan, Hap! Tidak sampai 3 menit dia men-sketsa wajahku di atas tisu, “Nih buat kamu, biar enggak cemberut nunggu makanannya”.

“Minggu depan aku berangkat ke Korea”. Aku diam. Bingung mau jawab apa.

“Kita skype-an aja ya” Hiburnya.

Satu bulan sudah dia di Korea. Belum tau kapan akan pulang lagi. Aku sibuk dengan kuliah kedokteranku. Skype-an paling tiga hari sekali. Sehari bisa 2-3 kali kirim pesan. Lalu lama-lama menjadi sehari sekali. Skype-an jadi seminggu sekali. Lalu 2 minggu sekali, sebulan sekali. Aku rindu sangat denganya. Tapi, responnya makin dingin. Aku jadi tidak berani merujuk, mengungkapkan semua kegalauanku tentang kapan dia akan pulang, bagaimana hubungan kita, atau masihkah aku dianggapnya kekasih. Sudah hampir enam bulan dan kita sudah jarang sekali komunikasi. Terakhir yang aku ingat, aku mengirimnya pesan tapi dia tidak membalas sekitar satu setengah bulan lalu. Lalu tiba-tiba malam itu ada pesan darinya. “Cek email ya”. Sesingkat itu. Lalu aku menangis semalaman.

***

“Mama ayoo, ayoo cepetan…”

Aku menoleh ke bawah, ke arah tanganku di tarik-tarik Ken, putraku yang masih balita. Lamunanku terhenti. Masa-masa itu. Aku merasa masih mengenalinya. Sebuah lukisan yang dipajang di pameran tertulis : Hermawan, Fadli 2014.

Aku berlalu mengikuti bocah kecil ini menariku ke arah laki-laki di pojok sana. Aku melihat jam di tanganku. Mengusap cincin emas putih berhiaskan berlian berukirkan sebuah nama, “Harry”. Ternyata tak terasa hampir lima belas menit aku bengong depan lukisan milikmu tadi.

***

TAMAT

Surabaya, 13 Januari 2015

note : Naskah hasil event perdana ‘Nerin Media’. Terbit dalam buku “Kumpulan Cerpen Romantika Cinta Pertama jilid 1”. Dapat di beli online di https://www.facebook.com/PenerbitNerinMedia?fref=ts

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s