spinning, turning, through the life

Standar

It was a long time. And it’s been long journey to pass. Rasanya udah lamaaa bangeet deh. Dulu, waktu kecil semua rasanya begitu sulit, serba takut, serba ragu, semua serba susah. Enggak kerasa sekarang udah 26 tahun. Kayaknya udah naek gunung, turun lembah, nyebur ke laut, jalan di gurun… and thats all change me. Sekarang rasanya serba berani, suka merasa out of control, serba mudah, percaya diri. 26 tahun kayaknya udah lamaa banget ya, walau ini saya tidak lagi ultah ya saat nulis ini. Banyak yang berubah dari diri saya , dalam hidup saya. Sudut pandang, perasaan, cara bersikap dengan orang lain, cara menjalani hidup sekarang dan masa depan. Tentu semuanya tidak terjadi begitu saja, semua proses yang menyangkut bayak objek dan subjek pasti.

Kadang suka merasa bangga. Mungkin kalau di tanya, siapa sih pahlawan dalam hidup kamu? sebagian orang akan jawab mamahnya, papahnya. Tapi kalo boleh jujur, jawaban saya adalah diri saya sendiri. Bukan sombong, hmm.. atauu okey lah terserah kalau mau dibilang sombong. Tapi, I always did turned my mind to think about something. I hated and I forgave, I liked then disliked, I talked for a thought. Saya pernah merasa di benci, saya juga pernah membenci, saya pernah dimaki, saya pernah memaki, saya pernah merasa disukai, saya pernah mencintai, saya penah dicintai, saya pernah di cemooh, saya juga pernah mencemooh, saya pernah merasa cupu, saya perah merasa gaul, saya pernah berharap, saya pernah juga gagal, tapi saya juga pernah berhasil. Semua itu merubah saya. Mungkin setiap orang pernah merasakanya juga sih. Karena saya juga pernah sombong.

Siapa saya? pertanyaan yang suka saya tanya ke diri sendiri. Apakah saya bahagia?

Saya adalah seorang anak pertama yang lahir di keluarga sunda-jawa, yang sekitar 3 or 4 tahun kemudian di operasi pembuluh darah ke jantung, lalu 2 tahun kemudian punya adik, lalu sekitar 5 tahun kemudian ibunya pergi dari rumah dan orang tuanya bercerai, saya tinggal, hidup dengan ayah & adik saya. Lalu mulai mengenal cowok dan cinta-cintaan, melewati masa abg bersama nenek-kakeknya di kota yang baru baginya di Bandung. Saya sempat mengalami culture shock di bandung, di buli, berharap mejadi terkenal dan sukses di kota tersebut, tapi malah gagal adaptasi. Membuat saya punya kenangan yang kurang bagus tentang bandung. Walau di kota itu saya juga punya teman dan kenangan indah lainnya juga sih. kemudian lanjut ke Jogja, study S1, that was so sweet for that city. Saya belajar hidup sendiri. Nggak ada yang ngatur tapi juga nggak ada yang belain. Belajar dari masa-masa di bandung untuk bisa bertahan di Jogja. Then I feel I found my self there. Saya baru belajar sendiri cara bersikap terhadap diri sendiri dan orang lain. Termasuk belajar mabok, hahaha..

Saya sebetulnya tidak tahu detailnya pelajaran bagaimana bersikap dengan orang lain. Yang saya tahu pengalaman membuat reflek saya makin cepat tanggap terhadap perlakuan orang lain kepada saya. Entah dari mana datangnya keberanian bicara ini, kemampuan mengutarkan isi hati, keberanian bilang “Saya tidak suka, saya marah, saya sedih, ya saya tidak sanggup untuk suatu hal”. Setelah itu saya merasa hidup saya membaik. Dan saya belajar itu semua sendiri. Ada beberapa orang yang membantu mungkin. Tapi saya mengolah pelajaran dan berdamai dengan diri saya sendiri itu sendirian. Saya tidak punya orang tua yang kaya dan harmonis yang bisa memback up kesedihan saya. Jadi saya pada waktu itu harus berjuang sendiri untuk bisa bahagia. Saya mencari cara sendiri agar saya bisa senang & bahagia.

Pilih teman curhat pun sering kebobolan. Saya temukan beberapa sifat alamiah manusia yang kadang saya sendiri pun merasa itu ada di diri saya. Berdamai dengan diri sendiri untuk memaafkan. That’s why I call my hero is my self. Lalu setelah lulus di jogja saya kerja di jakarta, pelan-pelan semua yang pernah saya imipikan tercapai. My Dear Big God. Tapi masalah terus datang untuk saya belajar dan selesaikan. Kemudian tentang cinta. Pencarian teman hidup yang banyak gagal juga. Saya belajar mengungkapkan rasa, belajar mengerti orang lain. Singkat cerita semua kegalauan itu berlalu dengan banyak pembelajaran juga.

Lalu 2 minggu lagi saya akan menikah. Happy for that. Exciting ofcourse. Saya akan pindah ke kota lain lagi sekarang. Ke Surabaya, pastinya akan bertemu orang-orang baru lagi dan akan banyak pembelajaran-pembelajaran baru juga. Saya akan berjuang agar tetap bisa bahagia untuk diri sendiri, suami saya nanti, anak-anak saya nanti dan kelaurga saya. Semoga anak saya bisa hidup lebih enak dari saya, baik secara materi dan mental. Semoga nanti mereka bisa sekolah sampai keluar negeri atau tinggal di luar negeri, punya lingkungan yang baik. Supaya jangan susah kaya ibunya yang harus banyak berdamai dengan diri sendiri karena banyak lingkungan yang ditinggalinya tidak baik.

That’s me. For a whole 26 years old. Dear My Big God please always change me to a better person. Who can lead and give a good lesson for others. Amiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s